Fanatik Boleh, Goblog Jangan!

Oleh: Yoga S. Adiredja (Penikmat, Pelajo dan Pemerhati Persib) | X: @yogaprasetyos


MEMÉRSIB.ID — Ada yang keliru ketika kecintaan terhadap sepak bola berubah menjadi kebencian terhadap sesama manusia. Ada yang salah ketika warna kebanggaan di dada membuat seseorang merasa berhak merendahkan, mengintimidasi, menyerang, bahkan menghilangkan nyawa orang lain.

Sepak bola memang membutuhkan fanatisme. Tanpa fanatisme, gemuruh stadion mungkin tak lagi terasa sama, kreativitas tribun kehilangan warna, dan pertandingan kehilangan sebagian gairah yang membuat banyak orang mencintai sepak bola. Namun, fanatisme seharusnya melahirkan dukungan, bukan kebencian. Ia semestinya memperkuat identitas, bukan menghapus akal sehat.

Maka, izinkan saya menegaskan satu kalimat yang mungkin terdengar kasar, tetapi patut kita renungkan bersama: fanatik boleh, goblog jangan!

Goblog di sini bukan soal tingkat pendidikan, latar belakang sosial, atau kecerdasan seseorang. Ini soal pilihan perilaku: ketika kita membiarkan ego kelompok mengalahkan akal sehat, menjadikan emosi sebagai pembenaran untuk melakukan kekerasan, dan menempatkan harga diri kelompok suporter di atas keselamatan manusia.

Kita mencintai sepak bola. Tetapi jangan sampai kecintaan itu membuat kita kehilangan kemanusiaan.

Ketika Pulang Menonton Bola Berubah Menjadi Petaka

Kematian ARK, Bobotoh berusia 16 tahun asal Ciapus, Kabupaten Bogor, setelah menyaksikan pertandingan Persib Bandung melawan Garudayaksa FC di Stadion Pakansari pada Minggu, 25 Oktober 2026, menjadi pengingat yang menyakitkan.

ARK meninggal dunia setelah mengalami serangan dalam perjalanan pulang. Kepolisian kemudian menangkap seorang tersangka berinisial MIR untuk menjalani proses hukum. Perkembangan kasus ini diberitakan oleh ANTARA Jawa Barat.

Di balik pemberitaan dan proses hukum, ada seorang anak yang tidak akan pulang lagi ke rumah. Di balik tragedi ini, ada keluarga yang harus menanggung kehilangan, ada masa depan yang terenggut, dan ada orang-orang terdekat yang mungkin akan terus bertanya: mengapa kecintaan terhadap sepak bola justru berakhir dengan tragedi?

Kita tidak boleh melihat peristiwa ini sekadar sebagai kabar tentang seorang Bobotoh yang meninggal dunia. Ini adalah persoalan keselamatan manusia dalam lingkungan sepak bola Indonesia.

Hari ini korbannya Bobotoh. Besok, tanpa perubahan sikap dan sistem keamanan, siapa pun bisa menjadi korban: suporter klub lain, pemain muda, ofisial tim, pedagang di sekitar stadion, pengguna jalan, bahkan orang yang sama sekali tidak terlibat dalam rivalitas sepak bola.

Karena itu, jangan biarkan warna jersey menentukan seberapa besar kepedulian kita terhadap korban. Nyawa manusia tidak memiliki klasemen. Kesedihan keluarga tidak mengenal rivalitas. Dan kekerasan tidak menjadi lebih ringan hanya karena korbannya mendukung klub yang berbeda.

Bukan Hanya Bobotoh, Bukan Hanya Persib

Kalau kita sungguh ingin memperbaiki sepak bola Indonesia, kita harus berani melihat persoalan ini secara menyeluruh. Kekerasan tidak boleh menjadi masalah hanya ketika korbannya berasal dari kelompok sendiri.

Pada Oktober 2026, rombongan pemain Persib EPA U-18 juga mengalami dugaan penyerangan di Rest Area KM 360 Tol Batang, Jawa Tengah. Insiden tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan pemain muda, ofisial, dan rombongan tim yang sedang melakukan perjalanan. detikJabar melaporkan sikap Persib atas penyerangan tersebut.

Pada periode yang sama, laporan juga menyebut serangan terhadap rombongan suporter Persija Jakarta, The Jakmania, saat melintasi Tol Palikanci. Sejumlah suporter mengalami luka. Inilah memberitakan insiden yang menimpa rombongan The Jakmania tersebut.

Ketiga peristiwa itu memiliki latar dan kronologi masing-masing. Kita tidak boleh menganggapnya sebagai rangkaian kejadian yang saling berkaitan tanpa bukti. Namun, semuanya memperlihatkan satu persoalan yang patut kita hadapi bersama: keselamatan manusia masih dapat terancam dalam aktivitas yang seharusnya menjadi bagian dari kegembiraan olahraga.

Persoalan ini tidak selesai dengan menunjuk satu kelompok suporter sebagai sumber segala masalah. Tidak semua Bobotoh melakukan kekerasan. Tidak semua anggota The Jakmania melakukan kekerasan. Begitu pula pendukung klub-klub lain di Indonesia.

Banyak suporter datang ke stadion bersama keluarga, menyanyikan lagu dukungan, mengeluarkan uang dari hasil bekerja, menempuh perjalanan jauh, dan pulang dengan kenangan tentang pertandingan. Banyak pula komunitas suporter yang menggerakkan kegiatan sosial, membantu sesama, dan merawat solidaritas di luar sepak bola.

Jangan sampai perilaku segelintir orang mencoreng seluruh komunitas. Namun, jangan biarkan siapa pun berlindung di balik nama komunitas untuk membenarkan atau menutupi tindakan kekerasan.

Kita harus mampu membedakan kecintaan terhadap kelompok dengan pembenaran atas tindakan anggotanya. Solidaritas seharusnya berarti berani mengingatkan kawan yang salah, bukan ikut membela kesalahan hanya karena pelakunya memakai warna yang sama.

Rivalitas Itu Bumbu, Bukan Alasan untuk Membenci

Saya memahami bahwa rivalitas adalah bagian dari daya tarik sepak bola. Persib memiliki sejarah, identitas, dan kebanggaan yang hidup dalam diri Bobotoh. Klub-klub lain juga mempunyai sejarah dan ikatan emosional yang sama kuat dengan pendukungnya.

Rivalitas membuat pertandingan terasa istimewa. Ada adu strategi, adu kualitas pemain, nyanyian tribun, koreografi, dan kebanggaan ketika tim kesayangan meraih kemenangan. Kekalahan pun menjadi bagian dari pengalaman yang membentuk kesetiaan seorang suporter.

Namun, di mana batasnya?

Batas itu seharusnya jelas: ketika rivalitas mulai mengancam keselamatan, merampas hak orang lain, atau mendorong seseorang melakukan kekerasan, rivalitas telah kehilangan makna olahraganya.

Dalam batas yang wajar, kita boleh saling meledek soal hasil pertandingan atau berdebat tentang taktik, kualitas pemain, keputusan wasit, dan kebijakan klub. Kekalahan tim kesayangan pun boleh membuat kita kecewa, marah, bahkan menangis. Namun, semua itu tidak pernah membenarkan kekerasan terhadap sesama.

Tetapi kita tidak berhak mengubah perbedaan dukungan menjadi alasan untuk menyerang orang lain.

Orang yang mengenakan jersey rival bukanlah musuh yang harus kita kalahkan di jalan raya. Mereka tetap sesama manusia yang berhak pulang dengan selamat. Ia adalah manusia yang memiliki keluarga, pekerjaan, cita-cita, dan hak untuk pulang dengan selamat.

Saya teringat pesan dalam editorial MEMÉRSIB berjudul “El Clasico Indonesia: Rivalitas Boleh Panas, Kebencian Tak Harus Diwariskan”. Kita boleh mewariskan rivalitas sebagai tradisi olahraga, tetapi jangan mewariskan kebencian kepada generasi berikutnya.

Anak-anak yang datang ke stadion semestinya belajar tentang loyalitas, kerja sama, sportivitas, dan keberanian mendukung tim kesayangan. Jangan sampai mereka justru belajar bahwa membenci lawan adalah syarat untuk menjadi suporter sejati.

Bobotoh sejati tidak perlu membenci orang lain untuk membuktikan kecintaannya kepada Persib. Prinsip yang sama berlaku bagi setiap suporter klub di Indonesia.

Jangan Menjadikan Emosi sebagai Pembenaran

Ada satu persoalan yang kerap muncul setelah kekerasan terjadi: kita terlalu sibuk mencari alasan untuk membenarkan tindakan kelompok sendiri.

Ketika pihak sendiri menjadi korban, kita menuntut keadilan. Ketika anggota kelompok sendiri diduga melakukan kekerasan, kita malah sibuk mencari alasan untuk membela mereka. Kita mempertanyakan konteks, menyalahkan provokasi, mengungkit kejadian sebelumnya, atau menganggap tindakan tersebut sebagai balasan yang pantas.

Cara berpikir seperti ini hanya akan memelihara lingkaran kekerasan.

Jika kita terus membalas setiap serangan dengan serangan baru, kapan rantai kekerasan ini akan berakhir? Jika setiap kelompok merasa berhak menjadi hakim sekaligus pelaksana hukuman, apa gunanya hukum dan proses peradilan?

Kita boleh marah ketika orang yang kita cintai menjadi korban. Kita boleh menuntut pengungkapan fakta, penegakan hukum, dan perlindungan bagi para saksi. Namun, kemarahan tidak boleh berubah menjadi izin untuk melakukan tindakan serupa.

Kita harus memperjuangkan keadilan melalui proses yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan melampiaskan dendam lewat aksi kekerasan.

Dalam kasus ARK, aparat perlu mengungkap seluruh fakta berdasarkan bukti, memeriksa keterangan saksi, dan memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan. Masyarakat pun perlu memberi ruang bagi penyelidikan, tidak menyebarkan identitas atau tuduhan yang belum terverifikasi, serta tidak menghasut orang lain untuk melakukan kekerasan.

Menahan diri bukan berarti lemah. Kita membutuhkan kedewasaan untuk mengendalikan emosi dan tetap menggunakan akal sehat sebelum mengambil keputusan.

Klub Tidak Bisa Berhenti pada Pernyataan Duka

Ketika tragedi terjadi, pernyataan belasungkawa merupakan bentuk empati yang penting. Klub juga patut menunjukkan perhatian kepada keluarga korban dan mendukung upaya pengungkapan fakta.

Namun, pernyataan resmi di media sosial saja tidak cukup. Semua pihak harus menindaklanjutinya dengan langkah nyata.

Klub memiliki hubungan emosional dengan para pendukungnya. Kita dapat memanfaatkan hubungan itu untuk membangun budaya suporter yang aman, inklusif, dan bertanggung jawab. Klub perlu terus mengedukasi pendukung tentang bahaya kekerasan, penggunaan media sosial secara bertanggung jawab, serta pentingnya melindungi sesama suporter.

Kelompok suporter juga harus memiliki keberanian untuk menegur anggotanya sendiri. Jangan sampai pelaku kekerasan dianggap pahlawan hanya karena membawa nama kelompok. Solidaritas tidak boleh menjadi tameng untuk menghindari tanggung jawab.

Sebaliknya, solidaritas yang sehat mendorong kita mengakui kesalahan, membantu korban, mendukung proses hukum, dan mencegah kekerasan serupa terulang.

Penyelenggara kompetisi pun perlu mengevaluasi aspek keamanan secara serius. Evaluasi itu tidak cukup hanya membahas pengamanan di dalam stadion. Perhatian harus mencakup akses masuk dan keluar, pengaturan arus penonton, koordinasi dengan aparat, jalur perjalanan suporter, penanganan keadaan darurat, serta komunikasi ketika terjadi insiden.

Begitu mendeteksi ancaman, semua pihak harus segera berkoordinasi sebelum pertandingan berlangsung. Jangan tunggu sampai korban berjatuhan untuk mulai mengambil tindakan.

Sepak bola Indonesia membutuhkan kebijakan keselamatan yang konsisten, bukan sekadar reaksi sesaat ketika sebuah tragedi menjadi perhatian publik.

Aparat Harus Tegas, Adil, dan Transparan

Penegakan hukum memiliki peran penting untuk menghentikan anggapan bahwa kekerasan dalam sepak bola merupakan hal yang lumrah.

Setiap dugaan tindak pidana harus diselidiki secara profesional. Siapa pun yang terbukti melakukan pelanggaran harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai hukum. Identitas klub, kelompok suporter, status sosial, maupun kedekatan dengan pihak tertentu tidak boleh menjadi alasan untuk memberikan perlakuan istimewa.

Pada saat yang sama, aparat harus membedakan orang yang benar-benar terlibat dengan mereka yang hanya berada di sekitar lokasi atau kebetulan mendukung klub tertentu. Proses hukum harus didasarkan pada bukti, bukan prasangka terhadap identitas suporter.

Pencegahan juga perlu mendapat perhatian. Koordinasi lintas wilayah, pemetaan risiko perjalanan, komunikasi dengan komunitas suporter, dan tindak lanjut atas ancaman yang dilaporkan dapat membantu mengurangi peluang terjadinya kekerasan.

Kita tidak ingin keamanan hanya hadir dalam bentuk pengumuman setelah seseorang meninggal dunia. Kita ingin sistem yang bekerja sebelum korban berikutnya jatuh.

Media Sosial Jangan Menjadi Pabrik Kebencian

Di era digital, kekerasan tidak selalu dimulai dari pertemuan fisik. Provokasi dapat tumbuh melalui komentar, unggahan, video yang dipotong tanpa konteks, serta pesan yang sengaja membangkitkan kemarahan.

Seseorang mungkin merasa aman ketika mengetik hinaan dari balik layar. Ia mungkin menganggap ancaman sebagai candaan atau menganggap ajakan menyerang sebagai bentuk loyalitas. Namun, kata-kata dapat memperbesar permusuhan dan mendorong orang lain mengambil tindakan nyata.

Karena itu, suporter harus lebih kritis sebelum membagikan informasi. Pastikan sumbernya jelas. Kita perlu menjaga martabat dan privasi keluarga dengan tidak menyebarkan foto korban sembarangan. Hindari pula menyebarkan identitas orang yang belum dikonfirmasi aparat. Sebelum menarik kesimpulan, pastikan kita tidak mengubah dugaan menjadi fakta hanya karena informasi tersebut sesuai dengan prasangka pribadi.

Media juga memiliki tanggung jawab besar. Kecepatan publikasi tidak boleh mengalahkan akurasi. Judul yang provokatif, informasi yang belum terverifikasi, dan penggambaran satu komunitas sebagai pelaku kolektif justru dapat memperluas konflik.

Berita harus menjelaskan kejadian, menguji informasi, menyampaikan perkembangan yang terverifikasi, dan memberi ruang bagi konteks. Bukan menyulut kemarahan demi perhatian.

Kita membutuhkan lebih banyak suporter yang berani berkata, “Cukup. Jangan sebarkan itu sebelum jelas kebenarannya.”

Apa Artinya Menjadi Suporter Sejati?

Bagi saya, menjadi suporter bukan hanya soal hafal susunan pemain, memiliki jersey, datang ke stadion, atau bernyanyi paling lantang di tribun.

Menjadi suporter juga berarti memahami bahwa klub yang dicintai tidak membutuhkan kekerasan untuk membuktikan kebesarannya.

Suporter sejati menjaga nama baik klub melalui perilaku. Ia mendukung tim ketika menang dan tetap setia ketika kalah. Ia menghormati lawan tanpa harus mengurangi kecintaan kepada klubnya sendiri. Ia berani mengakui kesalahan kelompoknya dan tidak menjadikan korban dari kelompok lain sebagai bahan olok-olok.

Kalau kita mengaku mencintai Persib, tunjukkan kecintaan itu melalui tindakan yang membuat Persib dihormati. Jika kita mendukung klub lain, lakukan hal yang sama. Jangan ukur loyalitas dari seberapa besar kebencian yang sanggup kita tunjukkan kepada rival.

Kepada orang tua, komunitas, sekolah, klub, dan seluruh ekosistem sepak bola, mari berikan teladan kepada generasi muda bahwa perbedaan bukan ancaman. Mereka perlu melihat bahwa seseorang dapat menjadi pendukung yang fanatik sekaligus menghormati orang yang mengenakan warna berbeda.

Jangan sampai anak-anak tumbuh dengan keyakinan bahwa kekerasan merupakan bagian wajib dari sepak bola.

Fanatik Boleh, Goblog Jangan!

Kita tidak perlu menghilangkan fanatisme dari sepak bola Indonesia. Kita hanya perlu mengembalikannya ke tempat yang benar.

Tunjukkan fanatisme dengan mendukung tim sepenuh hati, merawat tradisi tribun, dan menyuarakan aspirasi secara lantang. Bela klub dari ketidakadilan, sekaligus jaga kehormatan komunitas dengan sikap yang bertanggung jawab.

Tetapi jangan fanatik dalam membenci. Jangan fanatik dalam membenarkan kekerasan. Jangan fanatik sampai menganggap nyawa orang lain tidak berarti hanya karena ia mendukung klub yang berbeda.

Kasus ARK di Bogor harus menjadi pengingat bagi kita semua, bukan alasan untuk membuka permusuhan baru. Demikian pula dugaan penyerangan terhadap pemain muda Persib EPA U-18 di Batang dan serangan terhadap rombongan The Jakmania. Setiap korban berhak mendapatkan empati, setiap perkara harus ditangani berdasarkan fakta, dan setiap komunitas harus berani menolak kekerasan tanpa memilih-milih siapa korbannya.

Kita boleh berbeda warna, berbeda lagu, berbeda lambang, dan berbeda kebanggaan. Namun, kita berbagi jalan yang sama, ruang hidup yang sama, dan kemanusiaan yang sama.

Jangan tunggu korban berikutnya untuk menyadari bahwa ada sesuatu yang harus diubah. Jangan tunggu keluarga lain kehilangan anaknya untuk mulai menganggap keselamatan sebagai prioritas.

Sepak bola seharusnya membuat kita berani bermimpi, belajar menerima kekalahan, merayakan kemenangan, dan membangun persaudaraan. Jangan biarkan permainan yang kita cintai berubah menjadi alasan bagi seseorang untuk tidak pernah pulang.

Fanatik boleh, goblog jangan. Cintai klubmu sepenuh hati, tetapi jangan pernah kehilangan akal sehat dan kemanusiaan.

Yoga S. Adiredja — Penikmat, Pelajo dan Pemerhati Persib.

Bagikan artikel ini

Ikuti Saluran WhatsApp MEMÉRSIB

Dapatkan update terbaru seputar Persib Bandung.

Ikuti Saluran WhatsApp →

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *