MEMÉRSIB | Ceuk Bobotoh
MEMÉRSIB.ID – Media sosial membuka ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan pendapat, berbagi informasi, hingga membuat konten seputar sepak bola. Namun, ruang tersebut juga bisa menjadi tempat tumbuhnya provokasi, hinaan, dan perselisihan antarsuporter.
Fenomena itu mendapat sorotan dari Eko Maung melalui unggahan akun Instagram pribadinya, @ekomaung69. Ia mengingatkan bahwa konten bernada kebencian bisa terus berkembang ketika pengguna media sosial ikut memberikan respons.
Pandangan ini menjadi bagian dari ruang suara komunitas dalam rubrik Ceuk Bobotoh, tempat Bobotoh menyampaikan sikap, aspirasi, kritik, dan kepedulian terhadap PERSIB maupun persoalan di sekitarnya.
Mengenal Eko Maung
Eko Maung merupakan nama yang dikenal dari Eko Noer Kristiyanto, pemerhati dan peneliti hukum olahraga asal Bandung. Ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran.
Keterlibatan Eko di dunia sepak bola tidak hanya sebatas pengamatan. Ia pernah bekerja sebagai jurnalis televisi dan media officer di lingkungan PERSIB. Pengalaman tersebut mempertemukan latar belakang hukum dengan dinamika sepak bola profesional dan kehidupan suporter.
Eko juga aktif menyampaikan pandangan mengenai regulasi sepak bola, tata kelola kompetisi, serta perilaku suporter. Pada Desember 2022, ia bersama Agus Rahmat atau Gusdul mendirikan Bobotoh Club, sebuah komunitas yang membawa misi edukasi dan mendorong kedewasaan suporter.
Dalam sejumlah kesempatan, Eko menekankan pentingnya literasi agar suporter tidak mudah terpengaruh informasi yang simpang siur maupun dimanfaatkan oleh pihak lain. Karena itu, sorotannya terhadap konten yang memancing kebencian di media sosial memiliki kaitan erat dengan perhatian panjangnya terhadap perilaku dan literasi suporter.
Baca Juga:
Eko Soroti Konten yang Menghidupi Kebencian
Dalam unggahannya, Eko menulis:
“Keluguan suporter menghidupi konten kreator
Manusia mudah dipengaruhi oleh audio dan visual, medsos adalah sarana yang paling tepat untuk menggambarkan itu…sarana mewariskan kebencian beralih dari lagu2 dan kaos2 bernada kebencian menjadi konten2 dimedsos
Tingkat literasi minim, kekecewaan terhadap kehidupan yang membutuhkan pelampiasan…bertemu dengan konten2 hinaan maka jadilah siklus kebencian
Hati2 yah netizen…respon kalian terhadap konten2 seperti itu justru membuat mereka semakin semangat”
Pesan tersebut mengajak pengguna media sosial untuk lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan konten yang sengaja memancing emosi.

Kebencian Suporter Berubah Bentuk
Eko menyoroti perubahan cara kebencian antarsuporter menyebar. Jika dahulu lagu dan atribut bernada permusuhan menjadi salah satu salurannya, kini media sosial menyediakan ruang yang jauh lebih luas untuk menyebarkan pesan serupa.
Konten video, potongan pernyataan, judul provokatif, hingga unggahan yang merendahkan kelompok suporter lain bisa memancing reaksi dalam waktu singkat.
Baca Juga:
Situasi ini semakin rumit ketika pengguna tidak memeriksa konteks dan kebenaran informasi. Mereka bisa langsung terpancing, lalu ikut menyerang melalui komentar atau membagikan unggahan tersebut.
Padahal, setiap respons ikut memperpanjang percakapan di sekitar sebuah konten. Konten yang semula sepi bisa kembali ramai karena pengguna terus memberikan perhatian.
Facebook Pro dan Godaan Mengejar Interaksi
Fenomena tersebut juga relevan dengan perkembangan Facebook Pro dan berbagai platform yang membuka peluang monetisasi konten.
Sebagian kreator menggunakan media sosial untuk menyampaikan informasi, hiburan, analisis, atau mendiskusikan sepak bola secara sehat. Namun, peluang mendapatkan jangkauan dan penghasilan juga dapat menciptakan godaan untuk terus mengejar perhatian.
Perselisihan antarsuporter menjadi salah satu bahan yang mudah memancing emosi. Konten yang menyudutkan klub lain, merendahkan kelompok suporter, atau mengadu domba Bobotoh dengan pendukung tim berbeda berpotensi mengundang perdebatan panjang.
Di sinilah pengguna perlu menentukan sikap. Jangan sampai kemarahan, komentar kasar, dan kebiasaan membagikan konten provokatif justru membantu memperluas jangkauan unggahan yang seharusnya tidak mendapat perhatian.
Meski demikian, kritik terhadap klub, pemain, manajemen, maupun suporter tetap memiliki tempat. Bobotoh berhak menyampaikan kekecewaan dan perbedaan pendapat. Yang perlu dibedakan ialah kritik yang memiliki dasar dengan hinaan yang hanya bertujuan memancing keributan.
Bobotoh Jangan Mudah Terpancing
Kecintaan terhadap PERSIB seharusnya menjadi alasan untuk menjaga kedewasaan dalam mendukung klub. Rivalitas memang bagian dari sepak bola, tetapi rivalitas tidak harus berubah menjadi kebencian pribadi.
Bobotoh bisa menunjukkan sikap dengan cara sederhana: memeriksa informasi sebelum membagikannya, tidak ikut menyebarkan hinaan, serta berhenti memberikan interaksi kepada konten yang sengaja mengadu domba.
Tidak semua unggahan harus dibalas. Tidak semua provokasi perlu diladeni. Kadang, keputusan untuk tidak berkomentar, tidak membagikan, dan tidak ikut memperpanjang keributan justru menjadi respons paling tepat.
Sikap tersebut bukan berarti Bobotoh kehilangan keberanian untuk mengkritik. Sebaliknya, Bobotoh bisa tetap kritis tanpa harus menjadi bagian dari siklus kebencian.
Fokus Dukung PERSIB, Bukan Merawat Perselisihan
Pesan Eko Maung menjadi pengingat bahwa pengguna media sosial punya peran dalam menentukan konten seperti apa yang terus mendapat perhatian.
Jika Bobotoh terus memberi ruang kepada konten yang memancing permusuhan, pembuatnya bisa terdorong untuk mengulang pola serupa. Sebaliknya, Bobotoh dapat memilih mendukung konten yang memberi informasi, wawasan, hiburan, dan manfaat bagi sepak bola.
Pada akhirnya, energi Bobotoh lebih baik digunakan untuk mendukung PERSIB, mengawal perkembangan klub, serta membangun kultur suporter yang sehat.
Baca Juga:
Ulah nepi ka kanyaah ka PERSIB dijadikeun ladang ku batur keur ngala perhatian tina kabencian. Bobotoh mah kudu bisa ngabédakeun mana kritik, mana provokasi, jeung mana konten anu ngan saukur hayang ramé.
Sumber: Unggahan Instagram @ekomaung69; profil dan kiprah Eko Noer Kristiyanto dalam kajian hukum olahraga; pemberitaan mengenai pendirian Bobotoh Club.
Catatan redaksi: Tulisan ini mengangkat pandangan Eko Maung dalam unggahan media sosialnya. Pembahasan Facebook Pro merupakan konteks fenomena kreator digital, bukan kutipan atau tuduhan langsung dari Eko Maung. MEMÉRSIB merupakan media independen yang memberi ruang bagi suara dan opini komunitas.




