EDITORIAL MEMÉRSIB
Rivalitas Ini Tidak Lahir dari Zaman Perserikatan
MEMÉRSIB.ID, Persib dan Persija sama-sama punya sejarah panjang sejak era Perserikatan. Namun, perjalanan panjang melahirkan rivalitas yang kini kita kenal sebagai El Clasico Indonesia.. Panasnya hubungan Bobotoh dan pendukung Persija terbentuk lewat proses panjang ketika pertandingan, tribun, perjalanan tandang, dan berbagai insiden menumpuk menjadi ingatan kolektif.
Dalam berbagai penelusuran sejarah, termasuk perspektif Eko Maung dan tulisan media seperti Pikiran Rakyat, terlihat bahwa permusuhan itu bukan sesuatu yang muncul dalam satu malam. Selain itu, titik-titik eskalasi ini terus meneruskan ketegangan dari satu generasi suporter ke generasi berikutnya.
Siliwangi 1999: Ketika Sebuah Insiden Menjadi Ingatan
Sebagai contoh, publik kerap mengingat pertandingan di Stadion Siliwangi pada 1999 sebagai salah satu titik krusial dalam sejarah rivalitas ini. Peristiwa dan ketegangan yang mengiringinya menjadi bagian dari memori yang kemudian memperkeras hubungan kedua kelompok suporter.
Sebuah insiden di sepak bola jarang berhenti sebagai insiden. Pada umumnya, insiden di sepak bola jarang berhenti begitu saja. Sebab, saat publik terus menceritakan, menandai, dan membawa kisah tersebut ke laga berikutnya, insiden itu akan membentuk identitas baru. Akibatnya, rivalitas yang semula sebatas laga sepak bola mulai merembet menjadi permusuhan antarmanusia. Dari sana, rivalitas yang seharusnya berada di dalam pertandingan mulai merembet menjadi permusuhan antarmanusia.
Ironisnya, Mereka Pernah Bersahabat
Bagian paling ironis dari sejarah ini adalah fakta bahwa Bobotoh dan The Jakmania pernah memiliki relasi yang jauh lebih cair. Pada awal 2000-an, hubungan antarsuporter belum seperti gambaran yang kita kenal sekarang. Bahkan pernah ada momen kebersamaan dan ruang dialog yang memperlihatkan bahwa dua kelompok ini mampu berdiri sebagai sesama pencinta sepak bola.
Tribun bersama pada 2001 menjadi pengingat bahwa permusuhan bukanlah takdir. Kalau pernah ada masa ketika dua kelompok bisa duduk dan berbicara, berarti ada kemungkinan lain yang sebenarnya pernah tersedia.
Ketika Dendam Menjadi Warisan
Masuk ke pertengahan 2000-an, akumulasi insiden membuat keamanan pertandingan semakin kompleks. Cerita tentang bentrokan, perjalanan tandang, dan tindakan balasan mulai menjadi bagian dari kultur rivalitas. Akibatnya, generasi baru membenci sosok yang mereka sebut musuh bahkan sebelum sempat mengenal orang tersebut secara langsung.
Di titik inilah sepak bola menghadapi masalah yang lebih besar dari hasil pertandingan. Pada kenyataannya, seseorang bisa mewariskan rasa benci tanpa perlu pengalaman langsung. Sebagai contoh, generasi muda kerap membenci kelompok lain hanya karena menelan cerita dari generasi sebelumnya.
Ketika Sepak Bola Membutuhkan Operasi Keamanan
Semakin panas hubungan suporter, semakin rumit penyelenggaraan Persib–Persija. Polisi, panitia pelaksana, operator liga, PSSI, pengelola stadion, klub, dan kelompok suporter harus memperhitungkan bukan hanya apa yang terjadi di lapangan, tetapi juga apa yang mungkin terjadi sebelum dan sesudah pertandingan.
Karena itu pertandingan ini berkali-kali membutuhkan pengamanan khusus, pembatasan pergerakan, perubahan lokasi, bahkan larangan kehadiran suporter tandang. Sepak bola yang seharusnya menjadi pertunjukan akhirnya harus diperlakukan seperti operasi keamanan.
2012: Tiga Nyawa yang Tidak Boleh Hanya Menjadi Statistik
Tahun 2012 menjadi salah satu halaman paling kelam dalam sejarah rivalitas. Pertandingan di Jakarta berujung pada meninggalnya Lazuardi, Dani Maulana, dan Rangga Cipta Nugraha. Oleh karena itu, publik harus menghormati tiga nama tersebut sebagai manusia, bukan sekadar memandang mereka sebagai angka dalam daftar korban tragedi sepak bola.
Pada akhirnya, ketika masyarakat harus mengorbankan nyawa demi pertandingan sepak bola, kita perlu mempertanyakan hal apa yang sebenarnya sedang kita pertahankan. Kebanggaan klub tidak pernah membutuhkan kematian.
2013, 2014, 2016: Ketika Venue Pun Tidak Menyelesaikan Masalah
Maguwoharjo pada 2013, Karawang pada 2014, dan Manahan pada 2016 kembali memperlihatkan bahwa memindahkan pertandingan belum tentu memindahkan masalah.
Pada dasarnya, panitia bisa mengubah lokasi stadion, memindahkan kota penyelenggara, hingga merancang jalur perjalanan baru. Namun demikian, jika suporter terus membawa dendam ke mana pun mereka pergi, lokasi baru tidak otomatis mengubah perilaku lama.
2018: Haringga dan Pertanyaan yang Seharusnya Membuat Kita Malu
Tragedi Haringga Sirla pada 2018 menjadi pukulan yang seharusnya membuat seluruh ekosistem sepak bola Indonesia bercermin. Seorang manusia kehilangan nyawa dalam konteks rivalitas yang seharusnya berhenti pada pertandingan.
Sebagai dampaknya, pihak berwenang langsung memperketat seluruh regulasi pertandingan setelah tragedi kelam tersebut terjadi. Larangan suporter tandang menjadi semakin kuat. Sebagai langkah antisipasi, pihak berwenang memindahkan lokasi pertandingan, membatasi akses penonton, serta menerapkan skema pengamanan ketat. Langkah ini memang penting untuk mencegah tragedi berulang. Namun demikian, regulasi ketat tersebut tidak boleh mengaburkan akar persoalannya: masyarakat harus menolak budaya kekerasan dan tidak lagi memakluminya sebagai hal yang normal.
Dari Tragedi Menjadi Regulasi
Larangan suporter tandang pada laga Persib–Persija menjadi konsekuensi dari sejarah panjang tersebut. Namun larangan bukanlah akhir cerita. Ia adalah alat mitigasi risiko, bukan penyembuhan terhadap kebencian.
Larangan Suporter Tandang Bukanlah Solusi Akhir
Pengalaman beberapa musim terakhir memperlihatkan paradoks. Meskipun pihak keamanan melarang kehadiran suporter tandang, sejumlah Bobotoh tetap berupaya datang ke stadion. Sebagai contoh, sekitar 200 Bobotoh menerobos Stadion Patriot pada 2025 lalu. Menariknya, beberapa pendukung tuan rumah justru merangkul dan menyelamatkan suporter tamu dari potensi kerusuhan.
Pelajaran pentingnya bukan soal siapa yang lebih baik. Pelajarannya adalah bahwa di balik label Bobotoh dan The Jakmania tetap ada manusia yang pada kondisi tertentu mampu menolong manusia lainnya.
2026: Ketika El Clasico Kembali Menjadi Pertandingan Musafir
Pada 2026 ini, Persija dan Persib kembali menjalani situasi yang tidak biasa. Sebab, panitia harus memindahkan laga besar Jakarta tersebut ke Stadion Segiri, Samarinda. Selanjutnya, Persib merebut kemenangan dengan skor 2–1.
Perpindahan itu menunjukkan bahwa persoalan Persib–Persija bukan sekadar menentukan siapa tuan rumah. Setiap keputusan lokasi membawa konsekuensi keamanan, logistik, perjalanan suporter, dan koordinasi banyak pihak.
September 2026: Jakarta Kembali Menjadi Panggung
Sesuai jadwal, Persija akan menjamu Persib di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada Sabtu, 12 September 2026, pukul 15.30 WIB. Sebelumnya, izin pertandingan sempat menyita perhatian publik sampai pihak kepolisian menerbitkan izin resmi pada 10 September. Meskipun demikian, regulasi tetap melarang Bobotoh hadir sebagai suporter tandang.
Oleh karena itu, laga ini tetap menghadirkan tensi tinggi di lapangan, namun publik tidak lagi bisa menyaksikan atmosfer tribun seperti El Clasico masa lalu. Bagi sebagian orang, itu terasa kehilangan. Bagi pihak keamanan, itu adalah harga dari sejarah yang belum sepenuhnya selesai.
Kenapa Persib–Persija Selalu Rumit?
Hal ini terjadi karena satu pertandingan menyimpan terlalu banyak lapisan kepentingan dan emosi. Polisi harus menghitung risiko. Panpel harus memastikan keselamatan. I.League mengatur kompetisi. PSSI berada dalam ekosistem regulasi sepak bola nasional. Pengelola stadion mengatur venue. Klub bertanggung jawab kepada pertandingan dan suporternya. Sementara itu, kelompok suporter mempertahankan sejarah, emosi, dan identitas yang tidak akan hilang hanya dengan satu surat keputusan.
Itulah mengapa izin Persib–Persija tidak pernah sesederhana izin pertandingan biasa. Akibatnya, panitia tidak hanya memperhitungkan laga 90 menit di lapangan, melainkan juga rangkaian risiko sebelum, saat, dan setelah pertandingan.
“Yang Panas Itu Pendukungnya”
Salah satu gagasan penting yang sering muncul dari Eko Maung adalah bahwa yang panas itu pendukungnya. Pemain Persib dan Persija datang ke lapangan untuk bertanding. Mereka bisa saling beradu secara sportif. Namun demikian, mereka tetaplah manusia biasa setelah laga usai.
Kalimat sederhana itu penting. Logikanya, jika para pemain sanggup saling bersalaman usai laga 90 menit, mengapa pendukung harus membawa persaingan tersebut menjadi permusuhan di luar lapangan?
Fanatisme Tidak Harus Berarti Kekerasan
Fanatik kepada Persib bukan berarti harus membenci Persija. Membela identitas klub tidak membutuhkan kekerasan. Menyanyikan lagu klub sendiri tidak mengharuskan kita merendahkan manusia yang berdiri di seberang.
Biarkan Persib–Persija tetap menjadi pertandingan yang hidup: chant, koreografi, adu strategi, adu mental, dan kebanggaan. Akan tetapi, saat suporter menjadikan kebanggaan sebagai pembenaran atas kekerasan, sepak bola justru kehilangan makna hakikinya.
Musuh atau Rival?
Rival adalah pihak yang ingin kita kalahkan. Musuh adalah pihak yang ingin kita sakiti.
Di satu sisi, Persib membutuhkan Persija sebagai rival agar pertandingan menyajikan tensi tinggi. Di sisi lain, Persija juga memerlukan Persib untuk menjaga cerita sepak bola mereka tetap hidup. Namun demikian, sepak bola Indonesia tidak membutuhkan dendam yang terus mengalir dari generasi ke generasi.
El Clasico Harus Tetap Panas
MEMÉRSIB tidak sedang mengajak rivalitas menjadi hambar. Malahan, semua pihak sebaiknya tetap menjaga duel Persib–Persija sebagai laga yang paling publik nantikan. Tentu saja, suporter boleh merasakan ketegangan dan menunjukkan persaingan keras secara sportif. Bahkan, mereka bebas memilih saling sindir atau melihat luapan emosi saat merayakan kemenangan.
Namun demikian, semua pihak harus menetapkan batas persaingan tersebut secara jelas. Pada akhirnya, suporter tidak sepatutnya merayakan kemenangan apa pun jika harus mengorbankan nyawa manusia. Tidak ada badge klub yang lebih berharga daripada keselamatan manusia.
12 September: Ujian untuk Kita Semua
12 September bukan hanya ujian bagi Persib dan Persija di lapangan. Selain itu, situasi ini juga menguji cara kita memandang arti sebuah rivalitas. Akibatnya, kita perlu menentukan pilihan: apakah masyarakat masih menjaga cerita lama sebagai alasan untuk membenci, atau mulai memahami bahwa sejarah seharusnya memberikan pelajaran berharga?
Bobotoh tetap Bobotoh. The Jakmania tetap The Jakmania. Lagipula, suporter tidak perlu menghilangkan identitas klub kebanggaan mereka. Sebaliknya, masyarakat harus menghentikan anggapan bahwa identitas tersebut memberikan izin untuk menyakiti sesama.
Sejarah Bukan Takdir
Bagaimanapun juga, masyarakat harus terus menyuarakan sejarah rivalitas Persib–Persija sebagai bahan pelajaran bersama. Sebagai catatan, publik tidak boleh melupakan kenangan Stadion Siliwangi 1999 saat kedua kelompok suporter sempat menjalin hubungan dekat. Selain itu, masyarakat juga perlu mengingat deretan eskalasi dan tragedi pada 2012, 2013, 2014, 2016, insiden Haringga Sirla pada 2018, hingga berbagai pembatasan setelahnya.
Namun demikian, merawat ingatan sejarah tentu berbeda dengan menurunkan rasa benci kepada generasi penerus. Sejarah memberi kita pengetahuan tentang apa yang pernah terjadi. Pilihan hari ini menentukan apakah hal yang sama harus terjadi lagi.
Persib dan Persija boleh terus menjadi dua kubu yang saling mengejar kemenangan. Bobotoh dan The Jakmania boleh punya kebanggaan masing-masing.Pada akhirnya, kita semua harus menyadari bahwa urang sarua manusa.
Penutup MEMÉRSIB
El Clasico Indonesia tidak perlu kehilangan panasnya. Yang perlu hilang adalah anggapan bahwa panas harus selalu berujung pada kebencian.
Persib jeung Persija boleh saling sikut di lapangan. Bobotoh boleh bernyanyi sekeras-kerasnya. The Jakmania boleh membela timnya habis-habisan. Tapi setelah peluit akhir berbunyi—urang sarua manusa.
Rival mah kudu aya. Musuh mah teu kudu.
Editorial MEMÉRSIB




