Analisis Memérsib
Tilu pertandingan Super League sudah dilewati Persib. Tilu kali pula Mariano Peralta dipercaya masuk starting XI.
Tapi ada satu angka yang terus muncul: 0 gol dan 0 assist.
Wajar kalau Bobotoh mulai bertanya. Peralta datang ke Persib membawa nama besar dari musim sebelumnya. Bersama Borneo FC, ia mencetak 20 gol dan 14 assist dalam 34 penampilan.
Sekarang ceritanya berbeda.
Peralta belum mencetak gol di Super League. Namun, Igor Tolic tetap memberinya kepercayaan.
Nah, naha?
Peralta belum nyitak gol, tapi bukan berarti tidak bekerja
Kalau ukuran kita cuma gol dan assist, memang Peralta belum banyak bicara.
Namun, pertandingan terakhir melawan Persijap memberi gambaran berbeda.
Peralta mencatat dua umpan kunci yang ikut membuka proses serangan Persib. Salah satunya mengarah kepada Ikwan Tanamal sebelum bola diteruskan kepada Thom Haye. Sementara umpan lainnya diberikan kepada Marc Klok sebelum serangan berujung pada gol Uilliam Barros.
Jadi, kontribusinya memang belum sampai ke kolom gol atau assist.
Tapi bukan berarti Peralta tidak terlibat.
Ia tetap ikut menghidupkan serangan.
Baca juga: Persijap vs Persib: Menang di Jepara, Tapi Masih Ada PR
Persib Bukan Borneo
Di sinilah kita perlu melihat konteks.
Peralta tidak datang ke Persib untuk mengulang pertandingan demi pertandingan bersama Borneo. Ia masuk ke tim baru dengan sistem baru, pemain baru, dan tuntutan yang berbeda.
Musim lalu, produktivitas Peralta sangat tinggi. Karena itu, Bobotoh tentu berharap keran golnya langsung ngalir.
Tapi sepak bola tidak bekerja sesederhana itu.
Perubahan klub bisa mengubah cara seorang pemain bermain. Posisi, ruang yang didapat, pola serangan, sampai pemain yang berada di sekitarnya ikut memengaruhi.
Bisa jadi sekarang Peralta lebih sering terlibat dalam membangun serangan sebelum masuk ke fase akhir.
Tapi Gol Tetap Harus Datang
Di sisi lain, kita juga tidak boleh terlalu buru-buru membela Peralta.
Persib merekrutnya karena produktivitas.
Jadi, umpan kunci dan pergerakan tanpa bola memang penting. Namun, gol tetap menjadi bagian dari tugas pemain depan.
Tiga pertandingan masih paceklik gol belum cukup untuk memberi cap apa pun.
Kalau berlanjut terlalu lama, tentu ceritanya akan berbeda.
Karena itu, persoalannya bukan apakah Peralta bagus atau jelek.
Persoalannya: kapan kontribusinya mulai terlihat di papan skor?
Di Asia, Peralta Sudah Kasih Jawaban
Menariknya, Peralta sebenarnya sudah mencetak gol untuk Persib.
Ia menjadi pencetak gol kemenangan saat Persib mengalahkan Manila Digger pada playoff AFC Champions League Two. Gol tersebut membawa Maung Bandung lolos ke fase grup.
Artinya, kemampuan mencetak gol itu masih ada.
Masalahnya sekarang adalah konsistensi di kompetisi domestik.
Dan justru karena itulah kepercayaan Igor menjadi menarik.
Kalau Peralta benar-benar tidak masuk dalam rencana permainan, tentu sulit menjelaskan kenapa ia terus dipercaya menjadi starter.
Igor mungkin melihat sesuatu yang belum terlihat di angka
Ini bagian yang paling menarik.
Pelatih melihat pertandingan dari sisi yang lebih luas. Bukan cuma siapa yang mencetak gol.
Pergerakan pemain, ruang yang dibuka, pilihan umpan, tekanan ketika kehilangan bola, sampai hubungan dengan pemain lain juga ikut dihitung.
Mungkin itulah yang membuat Igor masih percaya kepada Peralta.
Namun, kepercayaan pelatih bukan cek kosong.
Peralta tetap harus menjawabnya di lapangan.
Lima gol? Belum. Assist? Belum. Tapi kontribusi? Aya.
Sekarang tinggal menunggu satu hal yang paling ditunggu Bobotoh.
Kapan keran gol Mariano Peralta dibuka?
Sabab lamun permainan sudah mulai nyambung, tinggal hiji deui: bola kudu asup ka gawang.
Peralta belum habis. Tapi ayeuna waktuna ngabuktikeun.




