Ajat Sudrajat menjadi salah satu nama paling dikenal dari generasi PERSIB pada dekade 1980-an. Publik mengenalnya sebagai penyerang tajam dengan julukan Si Arab. Ia tumbuh melalui kompetisi pembinaan di Bandung, menembus tim senior ketika masih muda, lalu ikut membangun identitas Maung Bandung pada masa Perserikatan.
Awal karier di Bandung
Ajat lahir di Bandung pada 5 Juli 1962. Ia memulai jalur sepak bolanya bersama Propelat, salah satu klub anggota PERSIB, sekitar 1977. Pada 1979 ia tampil bersama PERSIB junior di Piala Soeratin. Tim tersebut melaju hingga semifinal sebelum tersingkir dari Sumatera Utara, tim yang diperkuat sejumlah pemain muda berbakat.
Pada 1980, saat berusia sekitar 18 tahun, Ajat masuk rombongan PERSIB senior untuk mengikuti turnamen Jusuf Cup di Makassar. Ia menjadi salah satu pemain termuda dalam skuad. Pengalaman itu membuka jalan ke tim utama dan mempertemukannya dengan tuntutan sepak bola senior: kecepatan mengambil keputusan, disiplin taktik, serta persaingan memperebutkan tempat.
Perubahan posisi dan lahirnya Si Arab
Ajat pada awalnya bermain sebagai pemain sayap kanan. Pelatih Marek Janota kemudian menggeser perannya lebih ke tengah sebagai penyerang. Perubahan tersebut memaksimalkan naluri gol dan kemampuannya mencari ruang di sekitar kotak penalti. Julukan Si Arab dan nomor punggung 10 kemudian melekat pada sosoknya dalam ingatan pendukung PERSIB.
Catatan karier Ajat pada kompetisi Perserikatan juga menunjukkan produktivitasnya. Pikiran Rakyat mencatat ia menjadi pencetak gol terbanyak Divisi I Perserikatan 1983 dengan 13 gol. Pada fase Divisi Utama tahun yang sama, ia mencetak delapan gol dan memperoleh pengakuan sebagai pemain terbaik. Dua catatan itu berasal dari fase kompetisi berbeda sehingga tidak boleh digabung menjadi satu statistik musim tanpa penjelasan.
Final 1985, gelar 1986, dan perpindahan klub
PERSIB menghadapi PSMS Medan pada final Perserikatan 1985. Ajat mencetak gol penyama kedudukan dalam pertandingan, tetapi PERSIB akhirnya kalah melalui adu penalti. Ia juga gagal mengeksekusi salah satu tendangan penalti. Catatan itu menjadi bagian dari perjalanan seorang pemain yang kemudian ikut merasakan keberhasilan PERSIB menjadi juara Perserikatan 1986.
Ajat juga tercatat dalam skuad PERSIB yang menjuarai Perserikatan 1989/90. Setelah itu ia meninggalkan PERSIB dan bergabung dengan Bandung Raya pada 1991. Dalam wawancara, Ajat mengaitkan kepindahannya dengan persoalan bonus dan janji fasilitas setelah gelar 1989/90. Keterangan tersebut merupakan penuturan Ajat mengenai pengalaman pribadinya; artikel ini tidak memperlakukannya sebagai putusan hukum atau kesimpulan independen mengenai pihak lain.
Bersama Bandung Raya, Ajat bermain pada 1991–1997 dan ikut meraih gelar Liga Indonesia 1995/96. Dengan demikian, perjalanan kariernya tidak berhenti pada kejayaan bersama PERSIB. Ia juga menjadi bagian dari klub Bandung lain yang ikut membentuk persaingan sepak bola nasional pada awal era Liga Indonesia.
Statistik klub dan Timnas
Profil Ajat yang diterbitkan Jawa Pos pada 2 November 2024 mencatat 84 penampilan dan 42 gol bersama PERSIB pada 1980–1990, serta 147 penampilan dan 16 gol bersama Bandung Raya pada 1991–1997. Profil yang sama mencatat delapan caps dan satu gol Timnas pada 1984–1985. Angka tersebut merupakan data arsip media yang dirujuk dalam profil, bukan hasil rekonstruksi lengkap dari seluruh lembar pertandingan.
Kamustimnas menguraikan sejumlah turnamen dan pertandingan yang melibatkan Ajat, termasuk Merlion Cup 1983, Merdeka Tournament 1984, Piala Kemerdekaan dan SEA Games 1985, serta King’s Cup 1989. Sebagian pertandingan memakai label Timnas Perserikatan atau tim undangan. Karena itu, daftar pertandingan tersebut tidak otomatis sama dengan jumlah caps resmi Timnas senior FIFA.
Setelah gantung sepatu: membina generasi baru
Setelah mengakhiri karier bermain, Ajat tetap berada di lingkungan sepak bola. Ia membangun RMIFA, akademi sepak bola di Bandung. Dalam wawancara Jawa Pos pada 2024, Ajat menyebut akademi itu berawal dari sembilan peserta dan berkembang hingga hampir 190 siswa. Aktivitas ini memperlihatkan kesinambungan perannya: dari pemain yang tumbuh melalui klub anggota PERSIB menjadi pembina anak-anak yang ingin menempuh jalur serupa.
Kontribusi Ajat bagi sejarah PERSIB tidak hanya terletak pada gol dan gelar. Ia mewakili generasi yang melewati pembinaan lokal, persaingan internal, turnamen nasional, dan perubahan lanskap sepak bola Indonesia. Kini, melalui akademi, ia meneruskan pengalaman itu kepada pemain muda. Pikeun Ajat, lapangan henteu ukur tempat nyieun gol, tapi tempat ngawangun karakter.
Catatan sumber dan verifikasi
Rujukan: Bola.com, profil legenda PERSIB; Kamustimnas, data Ajat bersama Timnas; Jawa Pos, 2 November 2024; serta arsip Pikiran Rakyat mengenai perjalanan Ajat. Statistik Timnas tetap mengikuti batas klasifikasi pertandingan yang dicatat sumber.
MEMÉRSIB.ID – Persib Bandung
