Musim 2026/27 bakal jadi musim yang luar biasa padat buat Persib. Untuk pertama kalinya, Maung Bandung harus menjalani empat kompetisi sekaligus: Super League, I.League Cup, AFC Champions League Two, dan ASEAN Club Championship.
Artinya, bukan cuma jumlah pertandingan yang nambah, tapi perjalanan, waktu recovery, persiapan, rotasi, sampai risiko cedera juga ikut nambah.
I.League sendiri sudah menyatakan bakal melakukan penyesuaian jadwal untuk Persib dan Borneo FC karena keduanya menjalani empat kompetisi.
Menurut Memérsib, ini bukan sesuatu yang harus dianggap sebagai perlakuan spesial. Justru, penyesuaian seperti ini memang masuk akal kalau kita ingin kompetisi berjalan sehat.
Prioritas Bukan Berarti Diistimewakan
Persib jangan minta diistimewakan. Tapi Persib layak diberi prioritas.
Bedanya jelas. Diistimewakan berarti Persib mendapatkan keuntungan yang tidak seharusnya didapat klub lain. Sedangkan prioritas berarti regulator melihat kondisi nyata di lapangan ketika menyusun kalender kompetisi.
Persib tidak minta menang gratis. Tidak minta lawan mengalah. Tidak minta semua pertandingan dimainkan di waktu yang paling enak.
Tapi kalau Persib harus main di Indonesia, Asia, dan ASEAN dalam satu musim, masa jadwalnya dipaksa mepet terus?
Nya kitu mah lain kompetisi, tapi nyiksa.
Yang Dihitung Jangan Cuma Jumlah Pertandingan
Masalah jadwal bukan sekadar menghitung, “Persib main berapa kali dalam sebulan?”
Yang harus dilihat adalah jarak antarpertandingan dan perjalanan yang harus ditempuh pemain.
Misalnya Persib baru selesai pertandingan tandang di Asia. Pemain harus melakukan perjalanan panjang, kemudian kembali ke Indonesia, menjalani recovery, latihan, dan mempersiapkan pertandingan berikutnya.
Kalau beberapa hari kemudian langsung disuruh bertanding lagi di kompetisi domestik, jelas kondisi fisiknya tidak akan sama seperti ketika mereka bermain dengan waktu istirahat yang cukup.
Belum lagi kalau pertandingan berikutnya membutuhkan perjalanan lagi.
Pemain memang profesional. Tapi pemain bukan robot, euy.
Semakin padat jadwal, semakin besar tuntutan terhadap rotasi dan kedalaman skuad. Dan semakin minim recovery, semakin besar pula risiko pemain mengalami kelelahan atau cedera.
Persib Bukan Cuma Membawa Nama Persib
Ini yang menurut Memérsib sering terlupakan.
Ketika Persib bermain di AFC Champions League Two atau ASEAN Club Championship, yang turun ke lapangan memang Persib. Tapi di level internasional, performa mereka juga ikut membawa nama sepak bola Indonesia.
Ketika Persib menghadapi klub Korea Selatan, Australia, Vietnam, atau klub-klub ASEAN, mereka tidak hanya bermain untuk mengejar hasil pertandingan. Mereka juga menjadi salah satu wajah sepak bola Indonesia di kawasan.
Kalau Persib tampil bagus, yang mendapat perhatian bukan hanya Persib. Sepak bola Indonesia juga ikut kebawa.
Begitu juga sebaliknya.
Makanya, membantu Persib mendapatkan jadwal yang lebih manusiawi bukan berarti membantu Persib memenangkan pertandingan. Yang diberikan cuma kesempatan untuk datang ke pertandingan dalam kondisi yang lebih layak.
Setelah itu, ya Persib kudu berjuang sorangan.
Tapi Fairness Tetap Harga Mati
Meski begitu, bukan berarti Memérsib meminta semua jadwal Persib dibuat senyaman mungkin.
Klub lain tetap punya hak yang sama. Jangan sampai gara-gara Persib main Asia, klub lain malah jadi korban penjadwalan yang semrawut.
Jadi prinsipnya sederhana:
Adil untuk semua, tapi jangan pura-pura buta terhadap kondisi khusus.
Kalau Persib punya pertandingan AFC atau ASEAN yang jaraknya berdekatan dengan laga Super League, I.League bisa memberikan ruang recovery yang lebih masuk akal.
Bukan semua pertandingan harus dipindahkan.
Bukan lawan harus selalu mengalah.
Bukan Persib bebas menentukan jadwal sesuka hati.
Tapi setidaknya jangan bikin jadwal yang ngaco pisan sampai pemain harus terus-terusan main dengan recovery minim.
Kalau Sudah Dikasih Ruang, Persib Jangan Cengeng
Nah, ini juga harus jelas.
Penyesuaian jadwal bukan tiket buat Persib mencari alasan.
Kalau I.League sudah membantu, manajemen sudah membangun skuad yang lebih dalam, dan Igor Tolić punya cukup pilihan untuk melakukan rotasi, maka Persib juga harus membalasnya dengan performa.
Di Super League harus tetap bersaing.
Di ACL Two harus berani melangkah sejauh mungkin.
Di ASEAN Club Championship jangan cuma datang buat numpang pengalaman.
Dan di I.League Cup, ketika sudah masuk fase penting, ya gas maksimal.
Jadi hubungan klub dan regulator harus dua arah. I.League membantu menciptakan kondisi yang masuk akal, sementara Persib harus membuktikan bahwa dukungan tersebut memang layak diberikan.
Jangan Sampai Empat Kompetisi Jadi Empat Beban
Persib memang harus punya skuad yang cukup dalam. Igor juga harus pintar membaca kondisi pemain dan menentukan kapan harus menurunkan pemain utama dan kapan harus melakukan rotasi.
Tapi regulator juga punya tanggung jawab.
Jangan sampai empat kompetisi yang seharusnya menjadi kebanggaan malah berubah menjadi empat sumber masalah karena kalendernya terlalu padat.
Kalau mau klub Indonesia kompetitif di Asia, ya dari dalam negeri juga harus dibantu.
Jangan cuma ngomong, “Wakil Indonesia, semoga menang.”
Dukungan juga bisa berbentuk kalender yang masuk akal.
Persib Cuma Butuh Waktu untuk Bernapas
Pada akhirnya, Memérsib tidak sedang meminta Persib mendapatkan perlakuan khusus.
Persib tidak lebih penting daripada klub lain.
Tapi Persib sedang menjalani kondisi yang memang berbeda.
Empat kompetisi berarti empat tuntutan berbeda. Ada liga domestik, kompetisi Asia, kompetisi ASEAN, dan piala domestik. Kalau semuanya mau dijalani secara serius, maka pengaturan jadwal harus ikut serius.
Baca ogé ieu: Analisis Persib Menuju ACL Two 2026/27 · Hub ACL Two 2026/27 · Hub Persib 2026/27
Jadi, Persib harus diberi prioritas, bukan diistimewakan.
Persib teu menta jalan anu gampang.
Teu ménta meunang gratis.
Teu ménta lawan ngéléhan.
Persib ngan butuh waktu keur ngarénghap.
Sebab kalau Persib bisa kuat di Asia dan ASEAN, yang harum bukan cuma nama Maung Bandung.
Nama sepak bola Indonesia juga ikut kabawa.
[MEMÉRSIB]
Ngobrolkeun Persib rasa Bobotoh

Tinggalkan Balasan